top of page
  • Gambar penulisPandu Laut Nusantara

Akibat Perubahan Iklim, Suku Laut Terancam Punah Ranah


Kondisi rumah Suku Laut di Kuala Selat. (MUHAMMAD AMIN/RIAUPOS.CO)

Banjir rob musiman kembali merendam Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau.


Berbeda dari sebelumnya, banjir rob kali ini lebih tinggi dari biasanya.


Adapaun air pasang rob yang terus saja naik dan tingginya gelombang laut mengancam kehidupan masyarakat adat Suku Laut di sana.


Suku Laut dulunya tinggal di tengah laut dengan jarak lima hingga enam kilometer dari bibir pantai. Kebanyakan laut di Inhil memang dangkal.


Pada jarak tiga kilometer dari bibir pantai, beberapa kawasan hanya berkedalaman satu meter, sehingga jika tidak paham, banyak kapal yang kandas.


Sementara itu, pada jarak lima kilometer dari bibir pantai, kedalaman laut bisa jadi hanya empat hingga lima meter saja. Mereka pun bisa mencacakkan tiang pancang untuk membuat rumah di tengah laut itu.


Selain itu, masyarakat adat yang menggantungkan hidupnya di laut, sekarang sudah tergerus oleh "tsunami kecil" dan gelombang musim utara, sehingga menyebabkan akselerasi abrasi di perairan Kuala Selat. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan iklim.


Percepatan abrasi ini terjadi akibat perubahan iklim, tak lain akibat pemanasan global. Es yang mencair di kutub menyebabkan volume air laut bertambah.


Perubahan panas juga membuat tekanan udara meningkat dan memicu terjadinya gelombang tinggi.


Akademisi dan aktivis lingkungan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Dr Elviriadi menyebut, perubahan iklim harus diatasi secara bersama lintas negara. Kontribusi Indonesia dan Riau khususnya sangat penting dalam mengatasi perubahan iklim ini. Salah satunya dengan menghambat laju deforestasi dan melakukan reboisasi secara bersamaan.


Berbagai upaya sudah dilakukan masyarakat dan perangkat desa. Misalnya tahun 2020 lalu, dibuat tanggul yang digunakan untuk mengantisipasi abrasi. Selain tanggul, ditanam juga mangrove.


Namun, ketika datang hantaman gelombang utara dan angin tenggara, semuanya tersapu oleh gelombang pasang rob.


Dari kejadian tersebut, sejak tahun 2000an, masyarakat adat Suku Laut mulai perlahan meninggalkan lautnya, yaitu tempat bergantung hidup dan akhirnya tinggal sepenuhnya di darat.


“Malah kami yang terus dikejar air dan harus makin naik ke darat,” ujar Syamsuri penduduk asli Suku Laut di Kuala Selat.


Saat ini, kehidupan masyarakat Suku Laut bisa dikatakan serba prihatin. Mereka tidak lagi memiliki peralatan tangkap ikan dan perahu yang memadai.


Semua kehidupan di atas laut sekarang hanya jadi kenangan. Banyak warisan budaya Suku Laut yang telah mereka pelihara selama ini sedang diambang kepunahan.


Sehingga perlunya kesadaran akan bahayanya pemanasan global dan perubahan iklim yang semakin ekstrem, serta saling bahu membahu dalam menjaga keutuhan kekayaan bumi, salah satunya seperti menjaga keutuhan Suku Laut Indonesia dari kearifan lokalnya.


Sumber: RiauPos.co

4 tampilan0 komentar

Comments


bottom of page