top of page
  • Pandu Laut Nusantara

Kesadaran Bahaya Limbah Pakaian, Filip Suryana Mendirikan Burning Ocean: Eco Fashion Sustainable


Proses pemindahan lukisan ke kain ramah lingkungan. Foto: Filip Suryana.

Peduli lingkungan bukan hanya membuang sampah pada tempatnya dan memanfaatkan sampah bekas untuk sesuatu yang bernilai, sehingga sampah menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan, namun peduli lingkungan seharusnya juga diperhatikan terhadap pakaian, seperti perusahaan-perusahaan tekstil yang notabenenya memproduksi barang-barang sandang.


Adapun pakaian sudah menjadi kebutuhan wajib bagi manusia, karena seiring perkembangan zaman, jenis pakaian dan fashion juga mengalami perkembangan. Perusahaan-perusahaan tekstil tersebut seharusnya menonjolkan sikap kesadaran peduli lingkungan dengan memperhatikan bahan-bahan baku yang ramah lingkungan, selain limbah perusahaan yang juga harus diperhatikan pembuangannya, agar tidak menjadi ancaman bagi alam.


Sikap peduli lingkungan tersebut sudah ditonjolkan dalam kiprah salah seorang seniman muda yang menyalurkan bakat seni lukisnya ke pakaian dengan menggunakan bahan ramah lingkungan–eco fashion sustainable, yaitu Filip Suryana. Filip Suryana ini memiliki brand fashion sendiri, yaitu Burning Ocean.


Potret Filip Suryana saat pameran produk Burning Ocean. Foto: Filip Suryana.

Filip Suryana dan Burning Ocean


Filip Suryana merupakan seorang eco fashion designer dengan brand Burning Ocean yang sudah melanglang buana melakukan pameran di sekeliling eropa. Sebagai bagian dari usahanya dalam bidang lingkungan, ia hanya memproduksi satu baju pertahun. Hal itu bertujuan untuk mengurangi limbah kain.


Selain itu, Filip Suryana dalam bisnisnya menggunakan kain sustainable untuk desain bajunya. Ia menjadikan flora dan fauna langka sebagai desain produknya. Jiwa seni yang ia miliki membawanya kepada pikiran-pikiran untuk menciptakan produk-produk yang memiliki akar untuk menonjolkan kesadaran lingkungan, sosial, budaya, serta kekayaan alam Indonesia.


Filip mulai melukis sejak usia lima tahun di bawah bimbingan ayahnya Yan Suryana, seorang pelukis ternama Indonesia. Pada usia 17 tahun, setelah lulus SMA, ia memutuskan untuk menjadi seniman profesional dan memulai bisnis. Pada 19 November 2013, ia membuat logo Burning Ocean dan pada tahun 2014, ia mencetak prototipe produk pertama di ruang kreatifnya.


“Ayahku bilang, kalau mau jadi artis sebaiknya nggak usah kuliah aja, dijalani aja. Jangan terlalu banyak baca teori, dipraktekin aja langsung.” katanya.


Sosok orang tua merupakan sosok yang memotivasi Filip dalam berkarya, sebagai guru yang mengajarkannya melukis sedari kecil, sampai proses dalam pengkaryaannya ‘dewasa’ sendirinya.


Sementara itu, tumbuh di Bali, Indonesia, salah satu nilai yang ia pelajari adalah filosofi tradisional Bali 'Tri Hita Karana'. Diterjemahkan secara kasar sebagai: 'tiga alasan kemakmuran'; dicapai dengan menjaga keharmonisan antara Tuhan, manusia, dan alam.


Adapun brand fashion miliknya, Burning Ocean, memiliki dua landasan utama yang diwujudkan dalam praktik kerjanya. Pertama, adalah metafora tentang ambisi untuk mencapai tujuan, yaitu biasanya orang tidak akan berpikir bahwa air dapat terbakar, terutama untuk menelan lautan dalam api, tetapi akan mungkin untuk mencapai tujuan yang divisualisasikan, meskipun orang lain tidak percaya bahwa kita bisa.


Kedua, adalah metafora tentang kehancuran lautan dan seluruh dunia. Kehadiran Burning Ocean 'membakar' lautan, mengambil apa yang diinginkan, dan memberikan kembali sampah yang dihasilkan. Keserakahan dan rasa tidak hormat membuat sistem Bumi tidak seimbang, itulah sebabnya Burning Ocean berjuang untuk keberlanjutan.


Salah satu karya Filip Suryana yang diproduksi Burning Ocean.

Salah satu produk Burning Ocean yang diciptakan Filip, yaitu lukisan penari janger Bali dengan mahkota di kepalanya dengan isian jamur. Kehadiran jamur pada mahkota tersebut merupakan simbol yang bermakna tinggi dalam kehidupan, yaitu jamur hidup di antara kehidupan dan kematian, karena jamur membantu kayu-kayu di hutan untuk bisa menjadi pupuk bagi tanaman sekitarnya.


“Setelah jamur itu mati, dia meninggalkan nutrisi untuk tanaman, untuk alam, dan binatang lain yang tumbuh,” terangnya.


Setiap makhluk hidup memiliki masing-masing peran penting bagi kehidupan, karena ketidaktahuanlah yang mengerdilkan pengetahuan kita akan hal itu, seperti salah satunya stigma negatif terhadap bunga raflesia yang dianggap bunga bangkai atau bunga yang mengeluarkan bau tak sedap.


“Sebetulnya raflesia itu spesial, habitatnya itu hanya terdapat di Indonesia.” pungkasnya.


Selain itu, ia juga menciptakan lukisan bertema pencemaran alam dan lingkungan, yaitu lukisan gurita yang memegang sampah-sampah, lukisan tersebut diaplikasikan ke produk pakaiannya. Hal itu digambarkan sebagai gambaran bahwa sampah dapat mengancam kehidupan ekosistem laut.

Salah satu produk Burning Ocean mengenai pencemaran laut. Foto: Filip Suryana.

Menurut Burning Ocean, kesadaran lingkungan dan sosial perusahaan seringkali hanya merupakan strategi pemasaran, tetapi Burning Ocean menanamkan nilai-nilai itu ke dalam praktik kerjanya dan ke dalam pesan yang dibawa setiap produk.


Burning Ocean memilih untuk bekerja dengan kain ramah lingkungan bersertifikat untuk produk dan kertas daur ulang untuk jaminan dalam pemasaran. Produksinya transparan; semua produk dibuat dengan tangan di industri rumah tangga yang aman, bersih, dan adil di Bali, Indonesia.


Burning Ocean mendukung bengkel kecil, bukan produsen massal yang memiliki pola pikir jangka panjang karena tidak ingin anak mereka mewarisi kekacauan yang ditinggalkan oleh mereka, dan kita memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan masa depan dan kelestarian planet kita dengan cara terbaik kita.


“Jangan sia-siakan waktumu.” kata Filip Suryana.
28 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua
bottom of page