Menolak Tenggelam: Ibu Susi dan Pandu Laut Nusantara Salurkan Dua Unit Perahu untuk Warga Timbulsloko
- Pandu Laut Nusantara

- 2 jam yang lalu
- 4 menit membaca

Demak, 10 Maret 2025 — Pandu Laut Nusantara menyalurkan bantuan dua unit perahu kepada masyarakat Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada Senin (10/3/2025). Bantuan ini merupakan bagian dari inisiatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang digagas oleh Ketua Umum Pandu Laut Nusantara, Ibu Susi Pudjiastuti.
Perahu yang disalurkan merupakan perahu fiber berukuran panjang 6,8 meter dan lebar 1,4 meter, masing-masing dilengkapi dengan mesin tempel Suzuki 15 PK. Sarana tersebut diharapkan dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir sekaligus memperkuat kegiatan komunitas di Desa Timbulsloko.
Bantuan perahu ini diberikan kepada dua kelompok masyarakat, yaitu kelompok perempuan nelayan “Timbul Lestari” dan kelompok pemuda “Tim Siaga Timbulsloko.” Kedua kelompok tersebut selama ini telah aktif dalam kegiatan komunitas di desa, baik dalam aktivitas ekonomi berbasis laut maupun kegiatan sosial masyarakat.
Ketua Umum Pandu Laut Nusantara Susi Pudjiastuti menyampaikan bahwa dukungan terhadap masyarakat pesisir merupakan bagian penting dari upaya memperkuat kehidupan komunitas yang bergantung pada laut.
Apa yang terjadi di Timbulsloko menunjukkan betapa besar tantangan yang dihadapi masyarakat pesisir. Dukungan ini diharapkan dapat membantu warga tetap melanjutkan kehidupan dan aktivitas ekonomi mereka.
Program ini juga menjadi bagian dari komitmen Pandu Laut Nusantara untuk terus mendukung masyarakat pesisir di berbagai wilayah Indonesia dalam memperkuat ketahanan komunitas serta menjaga keberlanjutan wilayah laut dan pesisir.

Daratan yang Hilang
Desa Timbulsloko merupakan salah satu wilayah pesisir di Kabupaten Demak yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan bentang alam yang signifikan. Banjir rob yang semakin sering terjadi, abrasi pesisir, serta penurunan muka tanah telah menyebabkan sebagian wilayah daratan desa perlahan hilang.
Selama hampir satu dekade terakhir, rob telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Lahan yang dahulu berupa perkebunan, sawah, dan area pertanian kini berubah menjadi genangan air atau perairan dangkal. Perubahan ini secara langsung mempengaruhi mata pencaharian masyarakat. Jika sebelumnya banyak warga bekerja sebagai petani, kondisi lingkungan yang berubah membuat sebagian masyarakat kini beralih profesi menjadi nelayan atau bekerja di sektor yang berkaitan dengan laut.
Meski demikian, banyak warga Timbulsloko tetap memilih bertahan. Ikatan sosial komunitas, kedekatan dengan laut sebagai sumber penghidupan, serta keinginan menjaga kampung halaman membuat masyarakat terus beradaptasi dengan kondisi yang ada.
Saat ini, sebagian infrastruktur dasar desa telah lumpuh. Jalan yang dahulu menghubungkan rumah-rumah warga kini digantikan oleh jembatan kayu yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat agar aktivitas sehari-hari tetap dapat berlangsung.
Mobilitas warga pun menjadi tantangan tersendiri. Pada saat rob tinggi, perahu menjadi sarana transportasi utama untuk menuju daratan utama. Namun jumlah armada perahu yang tersedia di desa masih terbatas, dan sebagian di antaranya berada dalam kondisi yang kurang layak digunakan secara rutin.
Untuk perjalanan menuju daratan utama, warga biasanya menggunakan perahu umum dengan biaya sekitar Rp20.000 untuk sekali perjalanan pulang-pergi. Dalam kondisi tersebut, keberadaan perahu yang memadai menjadi sangat penting untuk mendukung mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi di desa.
Faktor Penyebab dan Dampak Terjadinya Rob
Faktor | Efek terhadap Timbulsloko | Dampak langsung |
Perubahan Iklim | Meningkatkan rata-rata ketinggian air laut dan memperkuat gelombang air. | Ketinggian air naik sekitar 30 cm per tahun. |
Penurunan Muka Tanah | Menurunkan ketinggian desa terhadap permukaan air laut. | Seluruh permukiman kini berada 1,5-2 meter di bawah permukaan air. |
Pembangunan Skala Besar di Daerah Pesisir | Mengganggu aliran sedimen dan hutan bakau (mangrove) yang berfungsi sebagai pelindung. | Mempercepat erosi dan membatasi benteng pelindung alami. |
Kondisi di Timbulsloko merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim, penurunan permukaan tanah yang relatif cepat, serta dinamika pembangunan di wilayah pesisir turut mempercepat perubahan bentang alam di desa ini.
Ketiga faktor tersebut secara bersamaan telah mengubah cara hidup masyarakat. Banyak rumah warga kini dibangun sebagai rumah panggung semi permanen untuk menyesuaikan diri dengan rob yang terus meningkat. Warga secara berkala menaikkan lantai rumah setiap tiga hingga lima tahun, membangun jembatan kayu darurat, serta menggunakan perahu sebagai sarana mobilitas menuju daratan utama.
Perubahan lingkungan ini juga mempengaruhi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Akses terhadap air bersih menjadi tantangan, karena instalasi pipa yang ada sering kali justru mengalirkan air asin, sehingga warga harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Berbagai bentuk adaptasi tersebut memungkinkan kehidupan tetap berjalan, namun juga menghadirkan beban sosial dan ekonomi yang tidak ringan bagi masyarakat.

Bantuan Perahu untuk Timbulsloko
Melihat kondisi tersebut, Pandu Laut Nusantara menilai bahwa sarana mobilitas menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Timbulsloko. Dua unit perahu kemudian disalurkan untuk dikelola secara kolektif oleh kelompok masyarakat di Dukuh Timbulsloko, yakni:
Tim Siaga Pemuda Timbulsloko
Perahu pertama yang dinamakan Susi 02 diserahkan kepada Tim Siaga Pemuda Timbulsloko. Kelompok pemuda ini telah aktif membantu berbagai kebutuhan warga desa, termasuk membantu transportasi warga yang membutuhkan bantuan, distribusi logistik, serta mendukung berbagai kegiatan komunitas. Kehadiran perahu ini diharapkan dapat memperkuat peran 20 pemuda aktif yang selama ini menjadi garda terdepan dalam mitigasi bencana di desa mereka.
Kelompok Nelayan Perempuan Timbul Lestari
Armada kedua yang dinamakan Susi 04 diberikan khusus untuk mendukung kemandirian ekonomi para perempuan tangguh di Timbulsloko. Selama bertahun-tahun, perempuan nelayan seperti Ibu Musyaripah, Ibu Lasmi, Ibu Jubaedah, dan Ibu Mukaromah melaut untuk menangkap udang, kepiting, dan kerang sebagai sumber penghidupan keluarga. Dengan adanya perahu ini, diharapkan mereka memiliki sarana yang lebih memadai untuk menjangkau lokasi tangkapan serta memperkuat kemandirian ekonomi kelompok.
Melalui inisiatif ini, Pandu Laut Nusantara berharap semakin banyak pihak yang turut memberikan perhatian dan dukungan bagi masyarakat pesisir seperti di Timbulsloko, agar mereka tetap memiliki kesempatan untuk hidup, bekerja, dan menjaga wilayah pesisirnya.
Jika Kamu tersentuh oleh keberanian warga Timbulsloko, pertimbangkan untuk membagikan tulisan ini ke teman-teman Kamu. Berbarengan, kita bisa mengubah ketidaktahuan menjadi kepedulian.
Referensi & Bacaan Lebih Lanjut
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) – Special Report on the Ocean and Cryosphere in a Changing Climate (2023).
Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat Pengembangan Kompetensi Sda Dan Permukiman, Indonesia. Pelatihan Pengelolaan Banjir Terpadu (2021).
Pandu Laut Nusantara. ‘Catatan program ‘Serah Terima Perahu di Dukuh Timbulsloko’ (2026).











Komentar