Pandu Laut Nusantara bersama PT Suzuki Indomobil Sales dan Susi Air Sukses Menggelar Edukasi Lingkungan bersama Generasi Muda Guna Menghadapi Krisis Lingkungan Laut
- Pandu Laut Nusantara

- 14 Apr
- 5 menit membaca

Pangandaran, 4 April 2026 – Dewasa ini, isu permasalahan lingkungan menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Hampir setiap hari berita baru mengenai bencana alam bisa kita temui di berbagai portal berita. BNPB mencatat bahwa setidaknya 3.176 bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2025. Perubahan iklim menjadi salah satu alasan terbesar banyaknya bencana dan cuaca ekstrem yang terjadi pada beberapa tahun terakhir. Baru beberapa bulan lalu saja kita menyaksikan bencana alam luar biasa menimpa Aceh, bahkan bulan lalu kita mendengar bahwa Pantai Kuta terancam menghilang akibat abrasi. Pembahasan perubahan iklim kini tidak hanya ada di kantor-kantor atau laboratorium riset, tak jarang pembahasan yang sama muncul kafe-kafe kekinian tempat anak muda bercengkrama.
Besarnya dampak perubahan iklim dan relevansinya terhadap kehidupan manusia menjadikan pengetahuan ini krusial untuk dipelajari, salah satunya oleh anak-anak. Melihat adanya urgensi akan hal tersebut, Pandu Laut Nusantara bersama PT Suzuki Indomobil Sales dan Susi Air menyelenggarakan kegiatan Edukasi Lingkungan kepada anak-anak SD dan SMP di Pangandaran pada Sabtu (4/04/2026). Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam The Indonesian Coastal Greenbelt Project yang telah berlangsung sejak 2024 dan telah menanam sebanyak 7.000 bakau pasir atau Scaevola taccada di area konservasi yang sama.

Kegiatan Edukasi Lingkungan yang dihadiri oleh 55 siswa/i SD dan SMP yang dibagi menjadi 11 kelompok ini berlokasi di Susi International Beach Strip, tepatnya di Pantai Barat Pangandaran. Bersama dengan mahasiswa/i dari Fakultas Perikanan Laut Tropis Universitas Padjadjaran, Pandu Laut Nusantara bersama Suzuki dan Susi Air menyelenggarakan berbagai macam kegiatan edukasi lingkungan mulai dari praktik penanaman langsung hingga kegiatan workshop di dalam ruangan.

Edukasi Lingkungan diawali dengan kegiatan penanaman pohon bakau pasir atau Scaevola taccada di area konservasi. Sebanyak 50 pohon bakau pasir ditanam oleh anak-anak sekolah dasar dan menengah dengan dibantu oleh 10 fasilitator dari Universitas Padjadjaran. Antusiasme anak-anak terpancar dari senyum merekah mereka di bawah terik matahari Pangadaran yang menyengat. Berbekal sarung tangan kain dan satu bibit bakau, anak-anak tidak hanya sekedar menanam pohon, tetapi mereka juga menanam harap untuk pesisir di kemudian hari. Anak-anak juga menuliskan harapan mereka untuk pesisir yang kemudian mereka gantungkan di pohon bakau yang mereka tanam sebelumnya.
“Paling seru menurut aku menanam di pesisir pantai. Walaupun panas, tapi aku dapat banyak pengalaman tentang menanam,"
Setelah penanaman pohon bakau pasir selesai dilakukan, polybag sisa penanaman dikumpulkan kembali untuk memastikan area konservasi tetap bersih. Bersamaan dengan eksplorasi area konservasi, anak-anak diajak untuk melakukan mini ocean clean up. Dengan dibekali karung, seluruh peserta melakukan aksi bersih pantai dan memastikan area konservasi dan sekitarnya bersih dari sampah organik maupun anorganik.

Seluruh pohon bakau pasir sudah tertanam dengan baik dan area konservasi sudah bersih dari sampah, inagurasi area konservasi dilakukan dengan pemasangan signage di depan area konservasi. Total bakau pasir yang ditanam di area konservasi tersebut mencapai lebih dari 7000 pohon.
Peluh meluruh, kegiatan edukasi lingkungan dilanjutkan di dalam ruangan. Sebelum kembali belajar, anak-anak diuji pengetahuannya mengenai lingkungan laut melalui beberapa permainan menarik seperti tebak gambar. Antusiasme anak-anak terisi ulang kembali setelah menampilkan yel-yel dan jargon kelompoknya masing-masing.

Raehan dan Adinda, pemateri edukasi dan workshop lingkungan laut, kembali melanjutkan kegiatan dengan apik dan semangat. Materi yang diberikan cukup padat. Materi pertama yang disampaikan merupakan materi yang berkaitan dengan perubahan iklim. Anak-anak diajak untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar mereka. Pengenalan perubahan iklim penting dilakukan karena selain mengajak anak-anak untuk memahami apa itu perubahan iklim, hal ini juga merupakan salah satu cara terbaik untuk memitigasi bencana akibat perubahan iklim itu sendiri di masa depan. Dengan mengajarkan hal tersebut sejak dini, diharapkan mereka bisa berpartisipasi aktif dalam merespons perubahan lingkungan yang terjadi akibat perubahan iklim.
Selain mengajarkan definisi dan dampak dari perubahan iklim, mengedukasi solusi dan hal-hal kecil yang bisa mereka lakukan untuk mencegah kerusakan Bumi lebih jauh juga krusial dilakukan. Melalui penyampaian yang menarik oleh pemateri dan diskusi aktif dengan peserta, anak-anak dapat dengan percaya diri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.
“Menanam pohon bakau pasir,” jawab salah seorang peserta saat ditanya terkait aksi yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Edukasi lingkungan tidak berhenti pada perubahan iklim. Materi yang disampaikan selanjutnya adalah materi yang berkaitan dengan sampah. Isu sampah yang serius dan meluas di setiap ekosistem di Bumi menjadi alasan diberikannya materi tersebut kepada anak-anak pada seminar kali ini. Anak-anak diajarkan untuk memilah sampah organik, anorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), kontribusinya terhadap perubahan iklim, serta cara pengolahan sampah yang baik. Pemberian materi tentang sampah dan pengolahannya kepada anak-anak membawa harapan bahwa kedepannya isu sampah dapat diatasi dengan lebih efisien dan menumbuhkan kebiasaan baik anak-anak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Setelah membahas tentang perubahan iklim dan kerusakan lingkungan di dua materi sebelumnya, materi terakhir diberikan sebagai salah satu bentuk solusi efektif dari permasalahan yang dibahas sebelumnya. The Coastal Greenbelt atau sabuk hijau alami merupakan salah satu solusi tepat yang dapat diterapkan untuk mengurangi dampak perubahan iklim, khususnya di wilayah pesisir. Sabuk hijau alami tersusun dari beberapa vegetasi pesisir yang berfungsi sebagai perisai utama lingkungan pesisir dari hempasan ombak secara langsung, angin, dan kerusakan lingkungan. Vegetasi pesisir yang menyusun sabuk hijau alami tersebut diantaranya adalah mangrove, bakau pasir atau Scaevola taccada, Tapak Kuda, Cemara Laut, dan Ketapang.
Peran dari Coastal Greenbelt itu sendiri dalam menghadapi perubahan iklim selain sebagai pelindung utama pesisir dari berbagai macam bencana pesisir seperti abrasi dan intrusi air laut, juga sebagai penyaring dan penyimpan karbon utama serta habitat berbagai macam biota. Coastal Greenbelt dan perannya dalam menjaga ketahanan dan kelestarian pesisir menjadi penting untuk dipelajari sebagai solusi yang bisa terus dikembangkan kedepannya.

Selesai dengan pembelajaran di dalam ruangan, setelah break makan siang, anak-anak kembali diajak ke ruang terbuka untuk belajar memonitor kesehatan pohon bakau pasir. Bakau pasir yang telah mereka tanam sebelumnya akan tumbuh besar dan dalam pertumbuhannya, untuk memastikan kesehatan dan ketahanan bakau pasir, monitoring perlu dilakukan. Monitoring bakau pesisir mencakup beberapa pengukuran, diantaranya adalah mengukur tinggi dan lingkar batang, serta panjang cabang. Berbekal log sheet, pena, dan meteran, mereka melakukan pemantauan bakau pasir dengan semangat.

Kegiatan terakhir dalam rangkaian edukasi lingkungan ini adalah workshop ekosistem laut. Pada kegiatan ini, panitia memberikan ruang bagi anak-anak sekolah dasar untuk menyalurkan imajinasinya melalui pembuatan poster tentang ekosistem laut. Mereka diminta untuk menggambarkan ekosistem laut yang sehat dan ekosistem laut yang rusak. Sementara untuk anak-anak sekolah menengah pertama, mereka diminta untuk menyalurkan pengetahuan mereka mengenai berbagai topik yang berkaitan dengan ekosistem laut melalui pembuatan mind map. Kreativitas anak-anak terlihat dari hasil poster yang mereka buat.


Tak selesai sampai disitu, setelah selesai membuat poster sederhana tersebut, mereka diberi ruang untuk berbagi pengetahuan dengan kawan-kawan yang lain. Satu per satu kelompok maju dan menjelaskan poster yang mereka buat. Dengan bekal yang mereka dapatkan sebelumnya, mereka menjelaskan poster yang mereka buat secara rinci. Jadi, selain mereka mendapatkan ilmu baru, mereka juga menyalurkan ilmu yang mereka punya kepada peserta lain.
Edukasi Lingkungan The Coastal Greenbelt selesai, anak-anak pulang dengan sekantong penuh pengetahuan tentang perubahan iklim dan ekosistem laut. Melalui kegiatan ini, selain untuk membekali generasi muda, kami berharap mereka bisa menjadi advokat kecil pelindung pesisir. Dengan berakhirnya kegiatan ini, anak-anak diharapkan dapat mengajak temannya yang lain dan membagi ilmu yang telah mereka dapatkan. Tumbuhnya generasi muda yang peduli menjadi jaminan ketahanan pesisir di kemudian hari.



Komentar