top of page
  • Gambar penulisPandu Laut Nusantara

Minimalisir Potensi Bencana, Pandu Laut Nusantara Gelar The Blue Green Action Part 2 di Pangandaran


Pandu Laut Nusantara kembali menggelar aksi penanaman pohon di Pantai Pangandaran. Aksi penanaman pohon dengan tema The Blue Green Action ini merupakan aksi yang kedua kalinya.


Adapun The Blue Green Action sebelumnya dilaksanakan pada tanggal 5 Februari 2023 lalu.


Aksi ini tak terlepas dari arahan Ketua Umum Pandu Laut Nusantara Susi Pudjiastuti yang mengutamakan kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan.


Program Coordinator kegiatan Pandu Laut Katia Abigail mengatakan, kegiatan penanaman pohon diselenggarakan kembali di Pantai Pangandaran, karena wilayah tersebut berpotensi mengalami abrasi.


"Secara geografis, wilayah Pangandaran berpotensi mengalami abrasi. Pangandaran memiliki 91 km garis pantai yang menghadap ke Samudera Hindia, yang dipengaruhi oleh angin sebagai pembangkitan gelombang." kata Abigail.


Angin tersebut memicu tingginya gelombang, sehingga berdampak terhadap Pantai Pangandaran.


Selain itu, perubahan iklim dan pemanasan global juga menjadi persoalan utama bagi wilayah pesisir pantai.


"Rata-rata gelombang tertinggi di Pangandaran mencapai 1,46 meter." ujarnya.


Menurut penelitian zona abrasi oleh Oseanografi Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2017, mayoritas Pesisir Pangandaran mengalami abrasi. Salah satunya Pantai Barat di Pangandaran telah mengalami abrasi hampir lebih dari 200 meter.


Hal itulah yang mendorong Pandu Laut Nusantara dalam menyelenggarakan kegiatan penanaman pohon di Pangandaran.

The Blue Green Action Part 2


Aksi penanaman pohon dengan tema The Blue Green Action Part 2 ini, tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Kegiatan diawali dengan senam pagi atau stretching.


Namun yang berbeda pada aksi The Blue Green Action Part 2, terdapat kegiatan beach clean up sebelum melakukan penanaman pohon. Beach clean up tersebut berhasil mengumpulkan sebanyak 469 kg sampah.


Adapun bibit pohon yang ditanam, yaitu bibit pohon butun, karena memiliki banyak keunggulan di pesisir pantai dibandingkan jenis pohon lainnya.


Selain tipenya kuat dalam menahan angin dan terjangan ombak, di sisi pertumbuhan, uniknya jenis pohon butun mampu tumbuh tanpa disiram.


Mengutip laman resmi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten, kekuatan pohon butun terbukti saat kejadian tsunami di Cilacap pada tahun 2006 yang menumbangkan seluruh pohon, terkecuali pohon butun.


Hal itulah yang mendasari Pandu Laut Nusantara dalam pemilihan jenis bibit pohon yang cocok ditanam di Pantai Pangandaran.


Kegiatan The Blue Green Action Part 2 ini, berhasil menanam sebanyak 608 bibit pohon butun.


Peserta yang hadir pun tercatat sebanyak 175 peserta, di antaranya Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran dan volunteer Pandu Laut yang berasal dari Bogor, Bekasi, Lampung, Palembang, Bali, Pangandaran, Parigi, dan Bandung.



The Blue Green Action Part 1


Pada aksi The Blue Green Action sebelumnya (5/2/2023) di Pantai Pangandaran, berhasil menanam sebanyak 1145 bibit, dengan jenis butun dan bakau pasir.


Kegiatan ini didukung oleh 185 peserta, di antaranya TNI AD Batalyon 323/Buaya Putih, Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran, dan relawan Pandu Laut Nusantara.


Kegiatan ini pun sejalan dengan arahan Ketua Umum Pandu Laut Nusantara Susi Pudjiastuti yang sesuai dengan visi misi Pandu Laut Nusantara.


Program Coordinator kegiatan Pandu Laut Nusantara Katia Abigail menjelaskan, tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meminimalisir efek dari naiknya air laut dengan mengurangi potensi abrasi di sepanjang Pantai Pangandaran dan menurunkan tingkat karbon dioksida yang menjadi penyebab perubahan iklim.


Tahun lalu, Badan Riset dan Inovasi Nasional memprediksi setidaknya ada 115 pulau di Indonesia yang bakal tenggelam pada tahun 2100 akibat kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah.


Sementara itu, peneliti di Centre for International Law (CIL), National University of Singapore (NUS) Dita Liliansa menegaskan, Indonesia harus mewaspadai laporan Panel antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) terbaru yang menyatakan bahwa muka air laut global terus meningkat.


"Sebagai negara kepulauan yang terdiri dari 17 ribu pulau dengan 80 ribu kilometer garis pantai, Indonesia harus mewaspadai laporan ini. Pasalnya, kenaikan muka air laut dapat menjadi ancaman bagi keutuhan wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic state)," tulis Dita di The Conversation.


Menurut Direktur Indonesia Research Institute for Decarbonization Moekti H. Soejachmoen, perubahan iklim sudah di depan mata.


“Laporan WMO (World Meteorological Organization) menunjukkan kecenderungan pemanasan global sejalan dengan peningkatan konsentrasi CO2, akhir 1980-an,” terangnya.


Pandu Laut Nusantara mengambil langkah untuk menyelenggarakan kegiatan yang bertemakan The Blue Green Action merupakan respon dari keresahan atas isu pemanasan global dan perubahan iklim.


Sementara itu, total bibit pohon yang sudah ditanam di Pantai Pangandaran dengan jenis butun dan bakau pasir sebanyak 2753 bibit.


Dari kegiatan tersebut, Pandu Laut Nusantara mengucapkan, terima kasih serta sangat apresiasi kepada semua pihak yang telah meluangkan waktunya untuk ikut serta dalam kegiatan ini.


Pandu Laut Nusantara berharap aksi penanaman pohon seperti ini, dapat membuka mata khalayak ramai tentang betapa pentingnya peran pohon bagi pantai dan laut dalam mengantisipasi efek dari perubahan iklim dan pemanasan global.

32 tampilan0 komentar

コメント


bottom of page