top of page
  • Gambar penulisPandu Laut Nusantara

Perubahan Iklim Menjadi Ancaman bagi Dunia, Terutama Negara Kepulauan


Ilustrasi naiknya permukaan air laut akibat perubahan iklim. Foto: Mahmud Ichi/ Mongabay Indonesia

Perubahan iklim dan kelestarian keragaman hayati menjadi isu besar di dunia saat ini, selain polusi, sumber daya air, serta bertambahnya populasi manusia.


Guru Besar Biologi Konservasi Universitas Indonesia Jatna Supriatna menjelaskan, Indonesia memiliki kado alam berupa cincin api (ring of fire) yang memberikan kekayaan sumber daya alam.


Adapun cincin api ini terbukti dengan 129 gunung berapi sebagai sumber sulfur kesuburan tanah dan geothermal dunia (40 persen cadangan dunia). Namun demikian, kondisi ini membuat Indonesia rawan gempa naiknya permukaan air laut.


Indonesia merupakan produsen ikan nomor tiga di dunia, setelah China dan Peru. Data FAO 2012 menunjukkan, kita memproduksi 6.7 juta ton ikan pada 2011.


“Kalau saja ribuan kapal ikan ilegal dapat diatasi, kekayaan laut kita akan terjaga.”


Mengutip Nationalgeographic.co.id, perubahan iklim menyebabkan permukaan air laut global terus meningkat.


Kenaikan permukaan air laut ini mengancam keberadaan banyak pulau di dunia, bahkan juga status "negara kepulauan" seperti Indonesia.


Tahun lalu, Badan Riset dan Inovasi Nasional memprediksi setidaknya ada 115 pulau di Indonesia yang bakal tenggelam pada tahun 2100 akibat kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah.


Hal senada seperti yang melanda Tuvalu pada 2019 lalu, pemerintah Tuvalu mengungkapkan bahwa dua pulau di negara itu berada di ambang kehancuran akibat kenaikan air laut dan erosi pantai.


Sementara itu, peneliti di Centre for International Law (CIL), National University of Singapore (NUS) Dita Liliansa menegaskan, Indonesia harus mewaspadai laporan Panel antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) terbaru yang menyatakan bahwa muka air laut global terus meningkat.


"Sebagai negara kepulauan yang terdiri dari 17 ribu pulau dengan 80 ribu kilometer garis pantai, Indonesia harus mewaspadai laporan ini. Pasalnya, kenaikan muka air laut dapat menjadi ancaman bagi keutuhan wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic state)," tulis Dita di The Conversation.


Menurut Direktur Indonesia Research Institute for Decarbonization Moekti H. Soejachmoen, perubahan iklim sudah di depan mata.


“Laporan WMO (World Meteorological Organization) menunjukkan kecenderungan pemanasan global sejalan dengan peningkatan konsentrasi CO2, akhir 1980-an,” terangnya.


Dampak perubahan iklim terlihat pada luas areal pertanian berkurang, produktivitas lahan turun, kepunahan spesies dan kerusakan habitat terjadi, sebagian pesisir dan pulau-pulau kecil tenggelam, serta penyakit berbasis lingkungan mewabah seperti demam berdarah dan COVID-19.


“Tidak ketinggalan bencana meningkat, terutama bencana hidrometeorologi.”


Selain itu, sejumlah negara menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) guna penyelamatan terhadap bumi.


KTT tersebut seperti Protokol Kyoto, Amandemen Doha, Persetujuan Paris, hingga terbaru pada November 2022, yaitu Sharm el-Sheikh Implemention Plan.


Pada KTT Iklim PBB COP27 tahun 2022 di Mesir itu, melibatkan hampir 200 negara untuk membahas masa depan aksi global terhadap perubahan iklim.


Konferensi ini menghasilkan kesepakatan, yaitu dana bantuan untuk negara-negara miskin menghadapi bahaya yang disebabkan perubahan iklim, dana loss and damage.


“Namun, perjanjian Sharm El-Sheikh gagal meningkatkan ambisi untuk mengurangi emisi. Meskipun ada upaya dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat [AS], India, dan Uni Eropa,” jelasnya.


Adapun kegagalan tersebut membuat dunia gagal mengendalikan target pemanasan di bawah 1,5 derajat Celcius yang diabadikan dalam Perjanjian Paris 2015.


Hal ini disebabkan, seruan untuk menghentikan semua bahan bakar fosil dan mencapai puncak global pada tahun 2025 ditolak banyak negara pengekspor minyak.


Tentunya kondisi ini sangat berbahaya, sebab dampak kenaikan suhu Bumi 1°C saja bisa mencairkan es di kutub dan membahayakan eksistensi sejumlah satwa.


Sementara, kenaikan 2 derajat Celcius dapat melenyapkan 40% hutan hujan, yang berakibat pada menipisnya cadangan makanan hewan.


“Untuk itu, kawasan konservasi sebagai benteng terakhir harus kita jaga dan pertahankan sebaik mungkin,” ujarnya.


Sumber: Mongabay, Nationalgeographic.co.id



18 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua
bottom of page