top of page
  • Gambar penulisPandu Laut Nusantara

Populasi Ikan Terancam: Laut Berubah Menjadi Limbah Ikan Global


Populasi ikan terancam oleh penangkapan secara berlebihan, polusi, dan krisis iklim. Hal itu juga senada dengan ikan yang dibuang sia-sia secara sengaja dan menjadi limbah di laut.


Pada Februari 2022 lalu, sebuah jaring nelayan milik Belanda melepaskan 100.000 ikan mati, yang menutupi beberapa ribu meter persegi lautan di lepas pantai Prancis.


Pemilik kapal beralasan bahwa pembuangan tersebut dikarenakan jaring yang rusak. Namun kelompok lingkungan menganggap ikan itu sengaja dibuang.


Berdasarkan angka yang telah dicatat World Wide Fund for Nature (WWF), pada 2019, sebanyak 230.000 ton ikan dibuang di perairan Uni Eropa (UE). Sebagian besar limbah (92%) berasal dari penangkapan ikan dengan pukat dasar yang mengikis dasar laut.


Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperkirakan, 35% dari semua ikan, krustasea, dan moluska yang diperoleh dari lautan, danau, dan peternakan ikan, terbuang sia-sia sebelum menjadi hidangan.


Limbah semakin menjadi perhatian regulator, karena dengan tingkat konsumsi ikan saat ini yang diproyeksikan menjadi dua kali lipat pada tahun 2050.


Tercatat bahwa 34% stok laut global sekarang ditangkap secara berlebihan. Selain itu, ikan yang ditangkap secara tidak sengaja juga menjadi persoalan yang terus-menerus terjadi.


Sementara itu, sekitar 10% ikan tangkapan liar dibuang di seluruh dunia setiap tahun, atau sekitar 8,6 juta ton ikan. Hal demikian disebabkan oleh alat tangkap yang tidak tepat dan kebijakan yang memungkinkan nelayan membuang tangkapan yang bukan target mereka.


Hal lainnya, aktivitas illegal fishing juga sebagai penyumbang berton-ton tangkapan sampingan ke limbah ikan global.


Satu studi menunjukkan bahwa di Ghana, Burkina Faso, dan Togo, 65% ikan yang lenyap di darat disebabkan oleh penanangan yang buruk, kurangnya fasilitas penyimpanan dan pendinginan di kapal penangkap ikan, dan rantai pasokan yang panjang.


Di samping itu, Pearson berpendapat, sebagian pengecer di AS juga menjadi penyebab limbah ikan tersebut, karena memprioritaskan ikan besar dan segar untuk dijual dengan harga premium.


Berdasarkan penelitian ilmuwan senior di Johns Hopkins Center for a Livable Future Dave Love, pengecer bertanggung jawab atas sekitar 16% makanan laut yang terbuang di Amerika Serikat (AS), sementara hampir 63% kepada konsumen yang membuang ikan ke tempat sampah.


Di Indonesia marak terjadi nelayan menangkap ikan menggunakan alat tangkap pukat harimau atau trawl, berukuran besar yang digunakan dengan cara dibenamkan di dasar laut.


Dari alat tangkap tersebut, banyak ikan yang bukan menjadi target nelayan terseret masuk ke dalam jaring. Ikan-ikan yang bukan target nelayan, mati dan dibuang begitu saja.


Berdasarkan hasil penelitian di Brondong-Lamongan (IPB, 2009), hanya 51% hasil tangkapan cantrang yang berupa ikan target, sedangkan 49% lainnya merupakan non target.


Selain itu, hasil penelitian di Tegal (Undip, 2008), penggunaan cantrang hanya dapat menangkap 46% ikan target, dan 54% lainnya non target.


Kendati demikian, perihal limbah ikan di Indonesia, perlunya menggalakkan dalam berbagai pemanfaatannya, sehingga dari limbah ikan menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis.


Untuk itu, solusi terbaik mencegah adanya limbah ikan, yaitu nelayan perlu dilengkapi dengan peralatan yang lebih selektif untuk menangkap ikan, dan kebijakan yang melarang pembuangan.


Sumber: The Guardian

28 tampilan0 komentar
bottom of page