top of page
  • Pandu Laut Nusantara

Ragam Pesona Manusia Laut Suku Bajo Menginspirasi Film "Avatar 2: Avatar The Way of Water"


Sutradara Avatar 2 ungkap inspirasi Metkayina dari suku yang ada di Indonesia. @disney.

Suku Bajo merupakan salah satu suku yang dikenal sebagai suku laut yang tangguh. Suku Bajo ini pun tersebar di Indonesia dan Asia Tenggara.


Adapun di Indonesia, suku Bajo dapat dijumpai di perairan Kalimantan Timur (Berau, Bontang), Kalimantan Selatan (Kota Baru), Sulawesi Selatan (Selayar), Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur (Pulau Boleng, Seraya, Longos, Komodo), Sapeken, Sumenep, dan wilayah Indonesia timur lainnya.


Sementara di wilayah lainnya, suku Bajo dapat ditemukan di perairan Sabah, Malaysia, dan Tawi-Tawi, serta Mindanao, Filipina.


Keunikan suku Bajo ini yaitu, keahliannya dalam menyelam. Mereka dapat menyelam hingga kedalaman 70 meter dengan sekali tarikan nafas.


Selain itu, kehidupan suku Bajo dan keindahan lautan Indonesia itu menjadi inspirasi dalam pembuatan film, seperti film Avatar The Way of Water yang disutradarai oleh James Cameron.


Inspirasi itu didapatkan karena keunikan suku Bajo yang dikenal sebagai pengembara laut. Mereka mengembara hanya bermodalkan perahu kuno tanpa peralatan modern dan hanya mengandalkan posisi bintang.


Berdasarkan jurnal penelitian Cell mendeteksi adanya mutasi DNA pada limpa suku Bajo. Limpa suku Bajo kemungkinan lebih besar, sehingga kuat untuk berada di dalam air dalam jangka waktu yang lama.


Suku Bajo sebagian besar memeluk agama Islam, mempunyai banyak sebutan. Sebagian menyebut mereka orang laut. Orang Jawa menyebut mereka Bujuus. Orang Melayu menyebutnya Celates.


Sejarawan dari UIN Raden Intan Lampung, peneliti sejarah maritim, Rahman Hamid mengatakan, banyak yang menganggap asal usul Orang Bajo yaitu dari Semenanjung Malaka, lalu berimigrasi ke berbagai penjuru Nusantara.


Namun, ada juga yang mengatakan orang Bajo berasal dari Sulawesi Selatan dan menyebar ke wilayah lainnya.


Pada masa kerajaan Malaka, abad ke-15. Puluhan Orang Bajo mengiringi Raja Parameswari ketika pindah dari Tumasik (Singapura) ke Muar. Saat itu, Orang Bajo menemukan tempat di Sungai Bertam. Sungai itu kemudian menjadi Malaka.


"Mereka merupakan kekuatan bahari yang sangat diandalkan, baik terhadap ancaman dari luar maupun dari dalam khususnya," kata Rahman dalam jurnalnya.


Adapun beberapa tahun silam, pemerintah Indonesia tidak mengakui suku Bajo sebagai warga negaranya, karena sejak dahulu kala, suku Bajo hidup nomaden. Oleh sebab itu, syarat untuk mendapatkan kartu identitas resmi dengan harus mendiami suatu tempat itu memberatkan mereka.


Suku Bajo memiliki prinsip bahwa pinde kulitang kadare, bone pinde sama kadare yang berarti memindahkan suku Bajo ke darat sama halnya memindahkan penyu ke darat.


Pengetahuan suku Bajo akan laut tidak diragukan lagi, suku Bajo mengatahui tentang laut, karakteristik laut termasuk sumber daya di dalamnya, serta mengetahui jika ada perubahan dalam laut.


Kisah salah seorang warga suku Bajo yang bermukim di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, bisa dilihat dalam dokumenter di Netflix berjudul 'Jago: A Life Underwater' karya James Reed dan James Morgan atau 'The Bajau' karya Dandhy Dwi Laksono.


Sumber: CNN Indonesia, KOMPAS.com

5 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua
bottom of page