top of page
  • Gambar penulisPandu Laut Nusantara

Seekor Paus Ditemukan Mati Terdampar dan Membusuk di Taliabu


Potret bangkai paus yang mulai hancur dan mengeluarkan bau menyengat di Morotai. (Foto : Hamsor Yusuf)

Seekor paus dengan panjang sekitar 10 meter dan lebar sekitar 5 meter, ditemukan mati terdampar dengan kondisi sudah membusuk dan berbau menyengat di Pulau Tabalaa, Desa Lede, Kecamatan Lede Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara.


Staf Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Sulaiman menceritakan, paus itu ditemukan oleh nelayan bernama Labaya pada Jumat (24/2/2023) lalu, hanyut di area rumpon nelayan berjarak sekira 13 mil dari utara Pulau Taliabu.


Kemudian esok harinya paus tersebut ditemukan lagi oleh beberapa nelayan. Paus ini selain belum diketahui jenisnya, warga setempat juga belum bisa memastikan penyebab kematiannya hingga terdampar.


"Kita kebetulan mancing dan tidak sengaja melihat bangkai ikan paus itu. Dari ciri tubuhnya paus ini sudah lama mati, karena saat didekati tercium bau yang menyengat," jelas La Saleh, warga Lede.


"Sejumlah nelayan setelah mengetahui ada ikan paus terdampar dalam kondisi sudah mati, langsung mendekat dan mengambil gigi taring ikan Paus itu sebagai hiasan di rumah," cerita Saleh.


Sementara itu hingga Selasa (7/3/2023), paus ini belum juga ditangani oleh pihak Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Pulau Taliabu. Karena ukuran tubuh yang besar, paus yang sebagian mulai hancur itu sulit terbawa arus. Warga terutama nelayan berharap penanganan dari pemeritah setempat.


Adapun dari temuan paus ini, pihak Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong mengumpulkan bahan berupa data dan keterangan untuk mengetahui secara pasti kematian mamalia laut tersebut.


Selain itu, LPSPL Sorong juga menyampaikan, pihaknya telah menangani 25 kejadian keterdamparan di tahun 2022. Keterdamparan tersebut terjadi di wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Papua, Papua Barat Daya, Papua Selatan, Papua Pegunungan serta Papua Tengah.


Sulaiman mengatakan lokasi terdamparnya paus ini pada medan berat yang sulit diakses termasuk menggunakan alat evakuasi sehingga sulit dilakukan penanganan. Lokasinya di dalam teluk dengan hutan mangrove dan kondisi karang.


Kepala LPSPL Sorong Santoso Budi Widiarto dalam rilis resmi KKP di Sorong, Senin (23/1/2023) lalu menjelaskan, jenis paus mendominasi kejadian mamalia laut terdampar di wilayah timur Indonesia baik yang masih hidup maupun yang mati.


"Jenis paus mendominasi kejadian mamalia laut terdampar di wilayah timur, jumlahnya hampir 52% yaitu sebanyak 13 kejadian jenis paus terdampar, 10 kejadian jenis dugong terdampar dan 2 kejadian lumba-lumba terdampar," ungkapnya.


Santoso juga menyebutkan mamalia laut terdampar paling banyak ditemui pada kondisi kode 4 dan 5, yakni mengalami pembusukan tingkat lanjut dan penguraian akhir.


Banyaknya mamalia laut yang ditemukan dalam kondisi membusuk menunjukkan bahwa mamalia laut dalam kondisi sekarat atau terdampar dan sulit dijangkau manusia sehingga membutuhkan waktu untuk ditangani.


Kejadian paus mati terdampar dan membusuk ini berpotensi membahayakan kesehatan manusia dan menimbulkan polusi air dan udara.


Sumber: Mongabay

4 tampilan0 komentar

Comments


bottom of page