• Pandu Laut Nusantara

Biarlah Laut Tetap Indah, Jangan Jadikan Tong Sampah!


Seekor paus sperma remaja ditemukan mati terdampar di Pantai Luskentyre di Skotlandia pada pengujung tahun 2019. Saat Scottish Marine Animal Strandings Scheme mengambil tindakan nekropsi alias pembedahan, terdapat 100 kilogram sampah plastik beragam jenis dalam perut mamalia laut tersebut.



Di Indonesia, kejadian serupa juga kerap terjadi. Pada tahun 2018, Warga Pulau Kapota di Kabupaten Wakatobi menemukan paus terdampar dalam kondisi membusuk.


Saat perutnya dibelah, terdapat kurang lebih 5,9 kilogram sampah plastik. Mulai dari ratusan gelas plastik, ratusan botol plastik, hingga ribuan potongan tali rafia.


Betapa miris bila biota laut kita mesti terus menemui ajal karena sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan, hingga berujung mengalir ke laut.


Persoalan sampah plastik di Indonesia ini termasuk salah satu masalah yang berlarut-larut dan terus-terusan menjadi salah satu bahaya yang mengancam ekosistem laut. Riset yang dilakukan Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI) sampai memasukkan persoalan sampah ini menjadi satu dari 6 masalah utama yang mengancam laut Indonesia.


Data Badan Pusat Statistik pada tahun 2021 menunjukkan limbah plastik Indonesia mencapai 66 juta ton per tahun. Sebagian besar sampah plastik ini berujung menumpuk di laut. Studi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2018 menyebut setidaknya ada setengah juta ton sampah plastik ini yang berakhir di laut.


Ulah kelalaian kita ini mengancam kelangsungan hidup ratusan spesies biota laut. Bahkan kebiasaan membuang sampah sembarangan itu, juga dapat berbalik membahayakan diri kita.


Butuh waktu ratusan tahun supaya sampah-sampah plastik dapat kembali terurai. Racun-racun berbahaya dalam kandungan plastik, sangat berkemungkinan kita konsumsi lewat ikan-ikan yang kita makan.



Di Pandu Laut Nusantara, persoalan sampah plastik di laut ini menjadi salah satu masalah yang kami perhatikan secara serius. Ketua Umum kami, Susi Pudjiastuti, juga tak jarang mengungkapkan kekesalannya kala menemukan sampah plastik saat menghabiskan hari di pantai.


Tak jarang, niat untuk bermain paddle board akan tertunda dan lebih banyak dihabiskan untuk misuh-misuh sembari memunguti sampah. Jargon tenggelamkan yang biasanya dipakai untuk aksi penenggelaman kapal pencuri ikan, juga tak jarang dijadikan ancaman bagi yang suka membuang sampah ke laut.


"Yang buang sampah ditenggamkan, kok tega buang sampah plasti di laut," kata Susi Pudjiastuti.


Langkah demi langkah kecil kami harapkan bakal berbuah besar buat mengurai persoalan sampah plastik ini. Edukasi demi edukasi, kampanye demi kampanye, hingga aksi bersih-bersih pantai, diharapkan jadi rutinitas yang tidak bosan-bosannya dilakukan.


Laut adalah masa depan bangsa. Merawatnya berarti menjaga kehidupan generasi setelah kita. Kekhawatiran CEO kami soal akan lebih banyak sampah plastik ketimbang ikan di laut, jangan kita biarkan jadi kenyataan.



"Kalau tidak bisa diubah, tidak menutup kemungkinan 2030 laut Indonesia akan lebih banyak sampah plastik dari pada ikannya," begitu kata Ketua Umum Pandu Laut Nusantara.


Selamat Hari Peduli Sampah Nasional!


Tertanda Pandu Laut Nusantara yang ingin menjaga nyala cita-cita menjadikan laut sebagai masa depan bangsa.

13 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua