Home Base : Pangandaran

Hotline : 0811 1091 518 | email : aku@pandulaut.org

  • Instagram
  • YouTube Social  Icon
  • Twitter
  • Facebook Social Icon

©2019 @pandulaut.org

  • Pandu Laut Nusantara

Nadine Chandrawinata: “Saya pernah menyamar demi melihat pementasan lumba-lumba”



Jakarta (PANDU LAUT) - Ketika negeri lain sudah melarang adanya pentas lumba-lumba keliling, Indonesia saat itu masih melegalkannya. Bersama JAAN (Jakarta Animal Aid Network), Sea Soldier (organisasi yang dibentuk oleh Nadine) memerangi pentas lumba-lumba keliling. Kepada Pandu Laut, Nadine menceritakan pengalamannnya.


“Banyak yang tidak tahu, pementasan lumba-lumba itu bentuk eksploitasi hewan. Kami lalu melakukan investigasi. Waktu itu saya mendatangi salah satu pentas lumba-lumba dengan menyamar dan melihat sendiri bahwa kondisi yang diterima oleh lumba-lumba sangat tidak baik,” katanya.


Nadine menjelaskan beberapa hal yang dialami oleh lumba-lumba diantaranya adalah, mengalami stres. Lumba-lumba biasa hidup berkelompok dan berenang dengan kecepatan tinggi. Jika kebutuhannya tidak terpenuhi, lumba-lumba akan mengalami stres sehingga menabrakkan moncongnya hingga hancur.


Lumba-lumba juga akan mengalami kerusakan pada mata. Kolam yang digunakan untuk pentas lumba-lumba diisi dengan klorin dan bahan kimia lainnya.


“Kulit mereka akan terbakar. Pindah dari satu kota ke kota lainnya, lumba-lumba hanya diangkut dalam truk terbuka dan masa hidup akan berkurang, karena di habitat aslinya, lumba-lumba dapat hidup sampai 40 tahun lamanya. Tetapi di sirkus keliling, lumba-lumba hanya hidup sampai dua tahun dan paling lama sampai delapan tahun," katanya.


Nadine menjelaskan bahwa saat harus melakukan pementasan, waktu istirahat tidak banyak

karena pentas lumba-lumba diadakan 2-3 kali dalam satu hari kerja, sementara pada akhir pekan, pentas bisa dilakukan hingga 5 kali.


“Kebijakan yang mengatur pentas lumba-lumba harus tetap dikawal. Tugas mengawal ini menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat harus diedukasi. Di era teknologi, edukasi sudah lebih mudah untuk dilakukan, salah satunya melalui media sosial,” kata Nadine.


Namun Nadine juga menyadari bahwa dengan meniadakan pentas lumba-lumba tidak hanya berhubungan dengan eksploitasi satwa tapi juga erat kaitannya dengan masalah ekonomi.

“Jika pentas ditiadakan, akan banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Maka, peniadaan pentas lumba-lumba ini harus dibarengi dengan pengadaan lapangan kerja,” pungkasnya.


Pewarta: Yolanda Erlina Parede

Editor: Regina Safri

37 views